Nomor: 01/Panpel RW13/III/2010Bogor , 02 Maret 2010
Hal:Pemberitahuan Pemilihan Ketua RW 13
Kepada Yth.
Bapak/Ibu Warga Griya Melati
Di Tempat
Assalamualaikum Wr. Wb.
Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Panitia Pemilihan Ketua Rukun Warga 13 memberitahukan kepada Bapak/Ibu warga Griya Melati untuk mengikuti pemilihan Ketua RW 13 Periode 2010-2013 yang akan dilaksanakan pada :
Hari, tanggal: Minggu, 07 Maret 2010
Pukul: 07.00 s/d 11.00 WIB
Tempat: Jalan Utama Perumahan Griya Melati (dekat taman Blok B)
Kami selaku Panitia Pemilihan Ketua RW 13 menghimbau kepada seluruh warga Perumahan Griya Melati untuk datang dan menyalurkan aspirasinya guna menentukan pemimpin (Ketua RW) Perumahan Griya Melati Periode 2010-2013 dengan caraMencontreng.
Nama- nama Calon Ketua RW 13 sebagai berikut :
Drs. Tri Bangun Laksono (Sony)4. Otta Kamdhana, SE (Otta)
Reidy A. Diharjo, SE (Farid)5. Dedes Fauzi, SSi (Dedes)
Ir. Rizal Supriyadi (Rizal)
Demikian Pemberitahuan ini kami sampaikan, atas perhatian dan partisipasinya kami ucapkan terima kasih.
Ingin berbagi karena ingin tahu lebih banyak. Tentang rumah kompos ini berdasar kepada paparan Pak Pon di depan tamu-tamu yang berkunjung mulai dari murid SD sampai dengan para Doktor. Dari lingkungan sekitar kampung sampai dengan tamu dari negeri sakura. Sebuah paparan yang sederhana, sesederhana proses pembuatan kompos Griya Melati itu sendiri.
Pemikiran awal tentang membuat kompos di Griya Melati adalah karena menumpuknya sampah yang tidak terangkut ke tempat penimbunan sampah kota karena tidak termasuk sampah rumah tangga. Pak Sony dan beberapa warga yang perduli pada saat itu mempunyai ide untuk bagaimana caranya sampah yang terlanjur dianggap sampah dapat dimanfaatkan kembali. Jadilah pada tahun 2005 dibuat bangunan yang akan dipergunakan untuk memproses sampah warga menjadi kompos. Demi membuatnya, Pak Sony rela merogoh kocek sendiri.
Selain membuat kompos, pembuatan produk daur ulang juga dirintis dengan mengirimkan Ibu Sharmila untuk mengikuti pelatihan membuat produk daur ulang. Alhamdulillah sampai saat ini bahkan Ibu Mila banyak menerima pesanan hingga nyaris tidak terpenuhi.
Hasil dari rumah kompos ini adalah dari 23 gerobak sampah produksi warga Griya Melati, hanya 7 gerobak yang tidak dapat diolah dan 'terpaksa' dikirim ke tempat pembuangan akhir di jalan Cifor. Contoh sampah yang terbuang diantaranya adalah diapers sekali pakai yang saat ini menjadi pilihan utama ibu-ibu yang memiliki bayi dan anak kecil. Gaya hidup praktis yang berdampak kurang baik terhadap lingkungan. Jika kita lakukan 4R (Reduce, Reuse, Recycle,and Replace), jelas diapers sangat tidak dianjurkan.
Itu salah satu komentar pedas anak murid saya saat tau kunjungan hari itu adalah ke tempat pengolahan sampah Griya Melati atau yang lebih kita kenal dengan rumah kompos. Saat ini saya sangat prihatin dengan kurangnya kesadaran akan menjaga lingkungan terutama dari kalangan anak-anak dan remaja. Sering saya lihat mereka membuang sampah begitu saja tanpa berpikir apa yang mereka buang sesungguhnya adalah aset dari sebuah bencana.
Kegiatan field-trip 2 minggu yang lalu sebetulnya diprakarsai oleh para orangtua yang mendengar kabar tentang rumah kompos dari Ibu Rahmi, salah seorang warga GM yang giat menyuarakan rumah kompos untuk dijadikan contoh pengolahan sampah di lingkungan perumahan. Hal ini agak sedikit membuat saya malu, kenapa bukan saya yang menyuarakan kepada anak2 tentang rumah kompos GM, kenapa harus datang dari orangtua? namun darimanapun itu, yang penting anak2 sudah mau datang dan melihat rumah kompos kita.
Ternyata ketika mereka benar-benar datang ke rumah kompos, mereka surprise dan bertanya kepada saya, "Miz, tempat sampahnya mana?", padahal saat itu mereka sedang berdiri di depan TPS GM. Hal ini jelas membanggakan saya sebagai warga GM, apalagi ketika Pak Sony dan Pak Pon rela tidak bersepeda hari itu untuk mempersiapkan penerimaan kedatangan tamu rumah kompos yang salah satunya adalah rombongan murid saya sebanyak 20 orang belum termasuk orangtua dan guru yang ikut mengantar mereka.
Harapan yang kita inginkan dari kunjungan anak2 ini bukan untuk menjadikan mereka dapat mengolah sampah menjadi kompos, melainkan lebih penting lagi adalah mengguggah kesadaran mereka untuk lebih mencintai lingkungannya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Saya jadi ingat Ibu Enah (almh). Beliau adalah kepala sekolah saya ketika SD. Setiap bertemu murid-muridnya beliau selalu berkata: "Jangan membuang sampah sembaranagan," dan setiap kali beliau menjadi pembina dalam upacara hari senin, kata-kata itu selalu yang beliau ucapkan sehingga mengakar kuat dalam hati saya. Akibatnya adalah setiap tas saya selalu terisi sampah, karena saya selalu merasa daripada mengotori lingkungan dengan sampah kita, lebih baik simpan dulu untuk kemudian dibuang di tempat yang seharusnya (hanya kemudian setelah sampai di rumah lupa, oleh karena itu sampah bungkus permen di tas saya semakin bertambah..^_^). Bisa ga ya saya jadi penerus Bu Enah yang inspiring..?
masih menerima foto lain nih, dari wartawan SWA hehe
Warm Regards,
RIZAL & Partai Nelayan