|
Pagi ini saya mendapatkan email berisi artikel yang bagus dari Pak Memed Beliau memberikan informasi kepada kita artikel ttg" penyakit Singapura Flu" atau Hand Foot Mouth Disease, sebagai bahan bagi warga GM untuk mengenal penyakit, yang saat ini sudah banyak dilaporkan berjangkit pada anak-anak balita . Minggu lalu 7 orang anak balita dari sebuah Playgoup di daerah BSD terjangkit. Walau tidak fatal, paling tidak bisa menambah pengetahuan kita ttg penyakit . Berikut Artikelnya : A. Penyakit Mulut dan Kuku pada Hewan Sinonim: Foot and Mouth Disease, Aphthae epizooticae Penyakit mulut dan kuku (PMK) merupakan penyakit yang sangat ditakuti oleh banyak negara, terutama negara yang penghasilannya dari bidang peternakan cukup besar. Menurut organisasi kesehatan hewan dunia Office International des Epizooties (OIE) yang berkedudukan di Paris, di mana Indonesia termasuk sebagai anggota, penyakit ini termasuk dalam daftar A, karena kerugian yang ditimbulkan sangat besar. Penyakit ini menyerang hewan berkuku genap (sapi, kerbau, babi, kambing, dan domba). Kerugian ekonomi yang ditimbulkan pada hewan berupa penurunan produksi susu dan daging, pelarangan ekspor, dan biaya pengendalian penyakit yang sangat besar. Hewan liar berkuku genap, misalnya rusa, antelop, gajah, dan jerapah, dapat terserang PMK, tetapi onta tidak peka. Angka kematian (case fatality rate) PMK pada hewan sangat kecil (kurang dari 3%), namun angka kesakitan (morbidity rate) sangat besar (dapat mencapai 90% atau lebih). Kasus PMK pada manusia sangat jarang, hanya dilaporkan di luar negeri, dan tidak digambarkan secara jelas. Pada kejadian wabah PMK di Pulau Jawa tahun 1983 dengan jumlah kasus yang sangat besar pada sapi, kerbau, kambing, dan babi, tidak ditemukan seorang pun yang tertular penyakit ini.
Saat ini Indonesia termasuk negara bebas PMK. Selain Indonesia, negara yang bebas PMK adalah Australia, New Zealand, Amerika Serikat, dan Kanada. Namun mengingat lalu lintas hewan dan produk hewan sangat pesat, dan beberapa negara tetangga di sebelah Utara Indonesia (Filipina, Thailand) belum bebas PMK, maka kewaspadaan terhadap masuknya kembali virus PMK ke Indonesia harus diwaspadai secara ketat. Pada tahun 2002, terjadi wabah PMK di Jepang, Korea, dan Inggris. Wabah PMK di Korea dan Jepang diduga disebabkan oleh pemasukan rumput asal China. Pada kejadian wabah PMK di Inggris, sejumlah besar ternak terserang dan hewan yang berdekatan dimusnahkan. 1. Penyebab Penyebab PMK adalah virus dalam Famili Picornaviridae, Genus Aphtovirus. Ada tujuh tipe virus PMK, yakni A, O, C, Asia, South African Teritorry (SAT) 1, 2, dan 3. Setiap tipe virus PMK masih terbagi lagi menjadi sub tipe dan galur (strain). Sejauh ini di Indonesia hanya ada satu tipe virus PMK, yakni virus tipe O. Virus PMK tahan dalam suhu beku, namun tidak tahan pada pH 6 atau lebih rendah. Laboratorium referensi PMK internasional yang ditunjuk oleh Office International des Epizooties (OIE)/FAO adalah Animal Virus Research Institute yang terletak di Pirbright, sebuah kota kecil di sebelah Barat London, Inggris. Di samping itu, ada pula laboratorium yang ditunjuk sebagai referensi regional, misalnya di Non Saray, Thailand, untuk wilayah Asia Tenggara. Negara-negara yang tertular PMK mengirimkan spesimen untuk identifikasi virus ke laboratorium- laboratorium tersebut. Virus PMK dapat terbawa oleh hewan yang sembuh selama 1-2 tahun (sapi) dan untuk waktu yang sangat lama (beberapa tahun) pada kerbau Afrika. 2. Sumber Penular Sumber penular virus PMK adalah semua hewan yang peka terhadap virus PMK, yakni hewan berkuku genap. 3. Penularan Pada hewan, penularan virus PMK umumnya terjadi secara kontak dalam kelompok hewan atau per os lewat makanan, minuman, atau alat-alat yang tercemar virus. Meskipun virus PMK relatif peka terhadap lingkungan di luar tubuh hewan, namun angka kesakitan dapat sangat tinggi karena hewan tertular mengeluarkan virus dalam jumlah sangat banyak lewat ekskreta (tinja, urine), terutama air liur. Penularan virus PMK dapat pula terjadi lewat bahan makanan beku yang mengandung tulang atau kelenjar limfe. Sebenarnya, virus PMK dalam daging menjadi inaktif (mati) saat terjadi pelayuan daging, ketika pH daging menjadi asam, namun virus PMK yang berada di dalam sumsum tulang dan kelenjar limfe masih tetap hidup. Oleh karena itu, beberapa negara mensyaratkan pengiriman daging dari negara tertular PMK tidak boleh mengandung tulang dan kelenjar limfe, di samping persyaratan lain. Orang yang bertugas di kandang dokter hewan, dan petugas kesehatan hewan dapat menularkan penyakit dari suatu peternakan tertular ke peternakan lainnya lewat sepatu atau alat lain yang tercemar virus PMK. Penularan secara aerosol (lewat udara) pernah terjadi di Inggris. 4. Gejala Klinik a. Hewan Masa inkubasi PMK bervariasi anatara 2-14 hari, tergantung pada masuknya virus. Mula-mula gejala yang muncul adalah demam, tetapi sering tidak dikenali karena berlangsung sepat. Lepuh atau vesikula pada lidah dan daerah interdigit (celah kuku) merupakan gejala yang mencolok, sehingga penyakit tersebut dinamakan penyakit mulut dan kuku. Lepuh di lidah yang kemudian pecah, maka akan ditemukan hipersalivasi (air liur berlebihan) berwarna bening menggantung pada bibir. Lepuh akan pecah meninggalkan ulkus dangkal. Pada saat demikian, hewan terserang tidak mau makan, sehingga berat badan menurun drastis, sedangkan pada ternak perah, prodksi susu menurun. Pada sapi, lepuh dapat pula ditemukan di puting dan kelenjar susu (mammae). Lesi pada daerah inter-digit menyebabkan hewan pincang. Apabila merupakan hewan penarik bajak atau pedati, maka hewan tersebut tidak dapat digunakan sebagai hewan kerja (penarik bajak, pedati). Pada babi, di samping lesi pada lidah dan kuku, lepuh dapat ditemukan pada pinggir cungur (snout). Kematian akibat serangan penyakit PMK sangat jarang terjadi. Bila terjadi, kematian anak sapi, biasanya pada anak sapi tersebut tidak mau menyusu atau makan karena ada lepuh di mulut. b. Manusia Kasus PMK pada manusia sangat jarang terjadi dan tidak menimbulkan penyakit serius sehingga sering diabaikan. 5. Diagnosa Pada sapi dan babi, gejala klinik PMK sulit dibedakan dengan vesicular stomatitis yang disebabkan oleh virus dalam Famili Rhabdoviridae, Genus Vesiculovirus. Bila penyakit hanya terjadi pada babi, maka perlu dibandingkan dengan vesicular exanthema yang disebabkan oleh virus dalam Famili Caliciviridae. Untuk isolasi virus, spesimen yang diambil dapat berupa jaringan lepuh pada lidah atau daerah inter-digit, yang dimasukkan ke dalam Phosphate Buffered Saline (PBS) pH 7,4 dan dikirimkan ke laboratorium referensi dengan pesawat udara dengan ketentuan yang memenuhi persyaratan pengiriman bahan biologik. 6. Pencegahan, Pengendalian, dan Pengobatan Penyakit PMK pada hewan umumnya sembuh spontan tanpa pengobatan. Di daerah endemik, pengobatan hanya ditujukan untuk infeksi sekunder oleh bakteria. Ada beberapa tindakan pencegahan, pengendalian, dan pengobatan terhadap wabah PMK, tergantung pada perkiraan besarnya kerugian yang akan dialami dan kemamouan suatu negara. Inggris melakukan tindakan stamping out, yaitu membunuh hewan tertular dan hewan lain yang berdekatan, kemudian mengubur bangkainya di daerah peternakan tersebut. Sementara itu, lalu lintas hewan ditutup dan kandang tempat ternak sebelumnya didesinfeksi dengan larutan asam atau basa tertentu. Di Indonesia, tindakan drastis seperti ini sulit dilakukan karena mendapat tentangan dari masyarakat pemilik hewan, seperti pernah terjadi di Bali sekitar tahun 1972. Pemerintah memilih cara immunisasi massal terhadap semua hewan peka PMK selama tiga tahun berturut-turut di pulau tertular. Vaksin yang digunakan untuk mencegah wabah PMK adalah vaksin inaktif dari galur virus yang sesuai. Pada masa lalu, vaksin PMK di Indonesia diprodukdi oleh Pusat Veterinaria Farma yang terletak di Wonocolo, Surabaya. Pada manusia, tidak dilakukan tindakan pencegahan secara khusus. B. Penyakit Mulut dan Kuku pada Manusia Flu Singapore atau Hand Foot Mouth Disease (HFMD) 1. Definisi “Flu Singapore” sebenarnya adalah penyakit yang di dunia kedokteran dikenal sebagai Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau dalam bahasa Indonesia Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut (PTKM). Penyakit ini sesungguhnya sudah lama ada di dunia. Berdasar laporan yang ada, kejadian luar biasa penyakit ini sudah ada di tahun 1957 di Toronto, Kanada. Sejak itu terdapat banyak kejadian di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri sebenarnya penyakit ini bukan penyakit baru. Istilah “Flu Singapore” muncul karena saat itu terjadi ledakan kasus dan kematian akibat penyakit ini di Singapura. Karena gejalanya mirip flu dan saat itu terjadi di Singapura (dan kemudian juga terjadi di Indonesia), banyak media cetak yang membuat istilah “Flu Singapore”, walaupun ini bukan terminologi yang baku. 2. Penyebab PTKM ini adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus RNA yang masuk dalam famili Picornaviridae (Pico, Spanyol = kecil), Genus Enterovirus (non Polio). Genus yang lain adalah Rhinovirus, Cardiovirus, Apthovirus. Di dalam Genus Enterovirus terdiri dari Coxsackie A virus, Coxsackie B virus, Echovirus, dan Enterovirus. Penyebab PTKM yang paling sering pada pasien rawat jalan adalah Coxsackie A16, sedangkan yang sering memerlukan perawatan karena keadaannya lebih berat atau ada komplikasi sampai meninggal adalah Enterovirus 21. Berbagai Enterovirus dapat menyebabkan berbagai penyakit. 3. Epidemiologi Penyakit ini sangat menular dan sering terjadi pada musim panas. PTKM adalah penyakit yang kerap terjadi pada kelompok masyarakat yang padat dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun (kadang sampai 10 tahun). Orang dewasa umumnya lebih kebal terhadap Enterovirus, walau bisa juga terkena. Penularannya melalui jalur fekal-pral (pencernaan) dan saluran pernafasan, yaitu dari droplet (butiran ludah), pilek, air liur, tinja, cairan vesikel (kelainan kulit berupa gelembung kecil berisi cairan) atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Tidak ada vektor tetapi ada pembawa (“carrier”) seperti lalat dan kecoa. Penyakit ini memberi imunitas spesifik, namun anak dapat terkena PTKM lagi oleh sirus strain Enterovirus lainnya. Masa inkubasi 2-5 hari. 4. Gejala Mula-mula demam tidak tinggi 2-3 hari, diikuti sakit leher (faringitis), tidak ada nafsu makan, pilek, gejala seperti “flu” pada umumnya yang tak mematikan. Timbul vesikel yang kemudian pecah, ada 3-10 ulkus di mulut seperti sariawan (lidah, gusi, pipi sebelah dalam) terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan. Bersamaan dengan itu timbul rash/ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/blister yang kecil dan rata), papulovesikel yang tidak gatal di telapak tangan dan kaki. Kadang-kadang rash/ruam (makulopapel) ada di bokong. Penyakit ini umumnya akan membaik sendiri dalam 7-10 hari, dan tidak perlu dirawat di rumah sakit. Bila ada gejala yang cukup berat, barulah penderita perlu dirawat di rumah sakit. Gejala yang cukup berat tersebut antara lain: - Hiperpireksia, yaitu demam tinggi dengan suhu lebih dari 39 0C - Demam tidak turun-turun - Takikardia (nadi menjadi cepat) - Takipneu, yaitu nafas jadi cepat dan sesak - Malas makan, muntah, atau diare berulang dengan dehidrasi - Letargi, lemas, dan mengantuk terus - Nyeri pada leher, lengan, dan kaku - Kejang-kejang atau terjadi kelumpuhan pada saraf kranial - Keringat dingin - Fotofobia (tidak tahan melihat sinar) - Ketegangan pada daerah perut - Halusinasi atau gangguan kesadaran 5. Komplikasi Komplikasi penyakit ini adalah - Meningetis (radang selaput otak) yang aseptik - Ensefalitis (radang otak) - Myocarditis (Coxsackle Virus Carditis) atau pericarditis - Acute Flaccid Paralysis/Lumpuh layuh akut (“Polio like ilness”) Satu kelompok dengan penyakit ini adalah: 1. Vesicular stomatitis dengan exanthem (PTKM) – Cox A 16, EV 71 (Penyakit ini) 2. Vesicular Pharyngitis (Herpangina) – EV 70 3. Acute Lymphonodular Pharyngitis – Cox A 10 6. Diagnosa Laboratorium: Sampel (spesimen) dapat diambil dari tinja, usap rektal, cairan serebrospinal dan usap/swab ulcus di mulut/tenggorokan, vesikel di kulit spesimen atau biopsi otak.. Spesimen dibawa dengan Hank’s Virus Transport. Isolasi virus dengan cara biakan sel dengan suckling mouse inoculation. Setelah dilakukan Tissue Culture, kemudian dapat diidentifikasi strainnya dengan antisera tertentu/IPA, CT, PCR, dll. Dapat dilakukan pemeriksaan antibodi untuk melihat peningkatan titer. Diagnosa laboratorium adalah sebagai berikut: 1. Deteksi virus: - Immuno histochemistry (in situ) - Imunofluoresensi antibodi (indirek) - Isolasi dan identifikasi virus Pada sel Vero; RD; L20B Uji netralisasi terhadap intersekting pools Antisera (SCHMIDT pools) atau EV-71 (Nagoya) antiserum 2. Deteksi RNA RT-PCR Primer: 5 CTACTTTGGGTGTCCGTGTT 3 5 GGGAACTTCGATTACCATCC 3 Partial DNA sekuensing (PCR Product) 3. Serodiagnosis: Serokonversi paired sera dengan uji serum netralisasi terhadap virus EV-71 (BrCr, Nagoya) pada sel Vero. Uji ELISA sedang dikembangkan. Sebenarnya secara klinis sudah cukup untuk mendiagnosis PTKM, hanya kita dapat mengetahui apakah penyebabnya Coxsackie A-16 atau Enterovirus 71. 7. Pengobatan 1. Istirahat yang cukup 2. Pengobatan spesifik tidak ada, jadi hanya diberikan secara simptomatik saja berdasarkan keadaan klinis yang ada 3. Dapat diberikan: - Immunoglobulin IV (IGIV), pada pasien imunokompromis atau neonatus - Extracorporeal membrane oxygenation 4. Pengobatan simptomatik - Antiseptik di daerah mulut - Analgesik misal parasetamol - Cairan cukup untuk dehidrasi yang disebabkan sulit minum dan karena demam - Pengobatan supportif lainnya (gizi dll) Penyakit ini adalah self limiting diseases, yaitu dapat sembuh dengan sendirinya, dalam 7-10 hari, pasien perlu istirahat karena daya tahan tubuh menurun. Pasien yang dirawat adalah yang dengan gejala berat dan komplikasi tersebut di atas. 8. Pencegahan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit: Penyakit ini sering terjadi pada masyarakat dengan sanitasi yang kurang baik. Pencegahan penyakit ini adalah dengan mengilangkan kekumuhan dan kepadatan lingkungan; kebersihan (Higiene dan Sanitasi) lingkungan maupun perorangan, Cara yang paling gampang dilakukan adalah misalnya membiasakan selalu cuci tangan, khususnya sehabis berdekatan dengan penderitam desinfektasi peralatan makanan, mainan, handuk yang memungkinkan terkontaminasi. Bila perlu anak tidak bersekolah selama satu minggu setelah timbul rash sampai panas hilang. Pasien sebenarnya tak perlu diasingkan karena ekskresi virus tetap berlangsung beberapa minggu setelah gejala hilang, yang penting menjaga kebersihan perorangan. Di Rumah Sakit, Universal Precaution harus dilaksanakan. Penyakit ini belum dapat dicegah dengan vaksin (imunisasi). Upaya pemerintah dalam hal ini: - Meningkatkan survailans epidemiologi (perlu definisi klinik) - Memberikan penyuluhan tentang cara-cara penularan dan pencegahan PTKM untuk memotong rantai penularan. - Memberikan penyuluhan tentang tanda-tanda dan gejala PTKM - Menjaga kebersihan perorangan - Bila anak tidak dirawat, harus istirahat di rumah karena - Daya tahan tubuh menurun - Tidak menularkan ke Balita lainnya - Menyiapkan sarana kesehatan tentang tatalaksana PTKM termasuk pelaksanaan Universal Precautionnya.
|
Beberapa hari kemudian, suami saya jg tertular, dengan gejala yg sama, tapi lebih parah, karena ruam" muncul di sekujur tubuh.
Kira" minggu lalu, kuku jari tengah kakinya mulai terlepas dari arah pangkal kuku, dan 2 hari lalu terlepas total.
Dan sekarang kuku jari manis dan kelingking tangannya mulai terlepas juga.
Apa ini merupakan gejala lanjutan HFMD?
Mohon bantuan dan informasinya..
Thx
Mohon informasinya.