Home Oase Iman

Oase Iman
Lupakan Jasa Dan Kebaikan Diri PDF Print E-mail
Written by Efbeer   
Saturday, 22 August 2009 13:39
Semakin kita sering menganggap diri penuh jasa dan penuh kebaikan pada orang lain, apalagi menginginkan orang lain tahu akan jasa dan kebaikan diri kita, lalu berharap agar orang lain menghargai, memuji, dan membalasnya maka semua ini berarti kita sedang membangun penjara untuk diri sendiri dan sedang mempersiapkan diri mengarungi samudera kekecewaan dan sakit hati.

Ketahuilah bahwa semakin banyak kita berharap sesuatu dari selain Allah SWT, maka semakin banyak kita akan mengalami kekecewaan. Karena, tiada sesuatu apapun yang dapat terjadi tanpa ijin Allah. Sesudah mati-matian berharap dihargai makhluk dan Allah tidak menggerakkan orang untuk menghargai, maka hati ini akan terluka dan terkecewaan karena kita terlalu banyak berharap kepada makhluk. Belum lagi kerugian di akhirat karena amal yang dilakukan berarti tidak tulus dan tidak ikhlas, yaitu beramal bukan karena Allah.

Selayaknya kita menyadari bahwa yang namanya jasa atau kebaikan kita terhadap orang lain, sesungguhnya bukanlah kita berjasa melainkan Allah-lah yang berbuat, dan kita dipilih menjadi jalan kebaikan Allah itu berwujud. Sesungguhnya terpilih menjadi jalan saja sudah lebih dari cukup karena andaikata Allah menghendaki kebaikan itu terwujud melalui orang lain maka kita tidak akan mendapat ganjarannya.

Jadi, ketika ada seseorang yang sakit, lalu sembuh berkat usaha seorang dokter. Maka, sebetulnya bukan dokter yang menyembuhkan pasien tersebut, melainkan Allah-lah yang menyembuhkan, dan sang dokter dipilih menjadi jalan. Seharusnya dokter sangat berterima kasih kepada sang pasien karena selain telah menjadi ladang pahala untuk mengamalkan ilmunya, juga telah menjadi jalan rizki dari Allah baginya. Namun, andaikata sang dokter menjadi merasa hebat karena jasanya, serta sangat menuntut penghormatan dan balas jasa yang berlebihan maka selain memperlihatkan kebodohan dan kekurangan imannya juga semakin tampak rendah mutu kepribadiannya (seperti yang kita maklumi orang yang tulus dan rendah hati selalu bernilai tinggi dan penuh pesona). Selain itu, di akhirat nanti niscaya akan termasuk orang yang merugi karena tidak beroleh pahala ganjaran.

Juga, tidak selayaknya seorang ibu menceritakan jasanya mulai dari mengandung, melahirkan, mendidik, membiayai, dan lain-lain semata-mata untuk membuat sang anak merasa berhutang budi. Apalagi jika dilakukan secara emosional dan proporsional kepada anak-anaknya, karena hal tersebut tidak menolong mengangkat wibawa sang ibu bahkan bisa jadi yang terjadi adalah sebaliknya. Karena sesungguhnya sang anak sama sekali tidak memesan untuk dilahirkan oleh ibu, juga semua yang ibunya lakukan itu adalah sudah menjadi kewajiban seorang ibu.

Percayalah bahwa kemuliaan dan kehormatan serta kewibawaan seorang ibu/bapak justru akan bersinar-sinar seiring dengan ketulusan ibu menjalani tugas ini dengan baik, Insya Allah. Allah-lah yang akan menghujamkan rasa cinta di hati anak-anak dan menuntunnya untuk sanggup berbalas budi.

Seorang guru juga harus bisa menahan diri dari ujub dan merasa berjasa kepada murid-muridnya. Karena memang kewajiban guru untuk mengajar dengan baik dan tulus. Dan memang itulah rizki bagi seseorang yang ditakdirkan menjadi guru. Karena setiap kebaikan yang dilakukan muridnya berkah dari tuntunan sang guru akan menjadi ganjaran tiada terputus dan dapat menjadi bekal penting untuk akhirat. Kita boleh bercerita tentang suka duka dan keutamaan mengajar dengan niat bersyukur bukan ujub dan takabur.

Perlu lebih hati-hati menjaga lintasan hati dan lebih menahan diri andaikata ada salah seorang murid kita yang sukses, jadi orang besar. Biasanya akan sangat gatal untuk mengumumkan kepada siapapun tentang jasanya sebagai gurunya plus kadang dengan bumbu penyedap cerita yang kalau tidak pada tempatnya akan menggelincirkan diri dalam riya dan dosa.

Andaikata ada sebuah mobil yang mogok lalu kita membantu mendorongnya sehingga mesinnya hidup dan bisa jalan dengan baik. Namun ternyata sang supir sama sekali tidak berterima kasih. Jangankan membalas jasa, bahkan menengok ke arah kita pun tidak sama sekali.. andaikata kita merasa kecewa dan dirugikan lalu dilanjutkan dengan acara menggerutu, menyumpahi, lalu menyesali diri plus memaki sang supir. Maka lengkaplah kerugiannya lahir maupun batin. Dan tentu saja amal pun jadi tidak berpahala dalam pandangan Allah karena tidak ikhlas, yaitu hanya berharap balasan dari makhluk.

Seharusnya yang kita yakini sebagai rizki dan keberuntungan kita adalah takdir diri ini diijinkan Allah bisa mendorong mobil. Silahkan bayangkan andaikata ada mobil yang mogok dan kita tidak mengetahuinya atau kita sedang sakit tidak berdaya, niscaya kita tidak mendapat kesempatan beramal dengan mendorong mobil. Atau diri ini sedang sehat perkasa tapi mobil tidak ada yang mogok, lalu kita akan mendorong apa?

Takdir mendorong mobil adalah investasi besar, yakni kalau dilaksanakan penuh dengan ketulusan niscaya Allah yang Maha Melihat akan membalasnya dengan balasan yang mengesankan. Bukankah kita tidak tahu kapan kita akan mendapatkan kesulitan di perjalanan, maka takdir beramal adalah investasi.

Mari kita bersungguh-sungguh untuk terus berbuat amal kebajikan sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Setelah itu mari kita lupakan seakan kita tidak pernah melakukannya, cukuplah Allah yang Maha Melihat saja yang mengetahuinya. Allah SWT pasti menyaksikannya dengan sempurna dan membalasnya dengan balasan yang sangat tepat baik waktu, bentuk, ataupun momentumnya. Salah satu ciri orang yang ikhlas menurut Imam Ali adalah senang menyembunyikan amalannya bagai menyembunyikan aib-aibnya.

Selamat berbahagia bagi siapapun yang paling gemar beramal dan paling cepat melupakan jasa dan kebaikan dirinya, percayalah hidup ini akan jauh lebih nikmat, lebih ringan, dan lebih indah. Insya Allah.***

 Sumber: Manajemen Qolbu, KH. Abdullah Gymnastiar

 
Batu kecil PDF Print E-mail
Written by Jurnal Agung Ananda   
Wednesday, 10 June 2009 15:48

 

Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya.
Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.

Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu
lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama. Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas? Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.

Teman...Allah kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Seringkali Allah melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Karena itu, agar kita selalu mengingat
kepadaNya, Allah sering menjatuhkan "batu kecil" kepada kita.

Mudah2an kita termasuk mahluk yang selalu mengingat Allah di setiap kesempatan, suka maupun duka, sedih maupun gembira. Amin

Last Updated on Wednesday, 10 June 2009 22:22
 
Mengemis Jabatan PDF Print E-mail
Written by KIA   
Sunday, 07 June 2009 12:45

Khalifah Umar bin Abdul Aziz r.a. pernah berkata: “Demi Allah, sungguh aku ingin sekali bila jarak antara kami dengan urusan pemerintahan itu melebihi jarak dua kutub Timur dan Barat.” Adalah sebuah perkataan mulia yang juga merupakan nasihat kepada kita tentang bagaimana menyikapi aktivitas yang berhubungan dengan pelayanan terhadap umat, yakni urusan pemerintahan. Ternyata beliau begitu menginginkan agar sebisa mungkin jabatan untuk mengurusi kepentingan umat itu menjauh darinya. Karena beban yang harus dipikulnya teramat berat dan harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah di akhirat nanti.

Pernyataan yang seperti ini jarang ditemukan dalam aktivitas politik kita. Justru sebaliknya, banyak yang menginginkan jabatan di pemerintahan. Entah itu menjadi anggota dewan legislatif, menteri atau yang paling prestisius, yakni sebagai presiden. Sudah banyak pernyataan yang dilontarkan oleh beberapa tokoh politik kita, yang menginginkan untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini. Keinginan menjadi presiden sudah sangat lumrah dilontarkan oleh beberapa tokoh politik. Hal yang dulu sangat ditabukan itu telah menjadi pernyataan yang biasa di era reformasi. Terlepas dari apakah itu murni keinginannya atau ada yang mendorongnya, barangkali ada baiknya merenungkan kembali sabda Rasulullah saw yang menasihati kita berkaitan dengan urusan pemerintahan ini.


Read More

Last Updated on Wednesday, 10 June 2009 22:36
 
Kearifan Emas PDF Print E-mail
Written by Jurnal Agung Ananda   
Tuesday, 26 May 2009 18:37

 

Seorang pemuda mendatangi Zun-Nun dan bertanya, "Guru, saya tak
mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat
sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-
baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk
banyak tujuan lain."

Sang sufi hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu
jarinya, lalu berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi
lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan
bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga
satu keping emas?"

Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu
keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu."

"Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil."

Last Updated on Wednesday, 27 May 2009 11:24
Read more...
 
Bangun dan Berlarilah PDF Print E-mail
Written by Widi Achmad Gozali   
Friday, 09 January 2009 09:10
Setiap pagi seekor rusa di hutan bangun…..
Sang rusa mengetahui dia harus berlari lebih cepat dari singa yang tercepat
Atau dia akan mati menjadi makanan sang Singa

Tiap pagi seekor singa bangun....
Sang singa mengetahui dia harus berlari lebih cepat dari rusa yang paling lambat
Atau dia akan Mati kelaparan…
Read more...
 
« StartPrev12NextEnd »

Page 1 of 2
Previous Next
DIRGAHAYU RI 65 TH

Newsletter

 

Griyamelati.net  ::  Website Perumahan di Kota Bogor

Last Comment

6 Sunday, 14 June 2009 14:00
sahlul
payeh situsnye gak rame
Mengemis Jabatan , kumpay
5 Wednesday, 10 June 2009 15:45
Jurnal Agung Ananda
Insya Allah, kita termasuk orang yang beruntung..... selalu mendapat pencerahan dari teman2. Amin
Kearifan Emas , Jurnal Agung Ananda
4 Friday, 29 May 2009 14:36
Muzayyanatul Karima
Sobat, emas yang ada dalam hati dan pikiran tidak mampu sepenuhnya kita dalami dan kita ketahui. Tapi setidaknya bisa tercermin dari sikap, tutur kata dan bahasa tubuh yang selalu membuat nyaman orang di sekitarnya. Bukan dari pakaian, rumah atau kendaraan yang dipakainya, apakah sederhana atau mewah itu bukan ukuran kemuliaan.
Kearifan Emas , Jurnal Agung Ananda
3 Thursday, 28 May 2009 19:52
B210
menyentuh banget ceritanya....thanx for share
Kearifan Emas , Jurnal Agung Ananda
2 Thursday, 28 May 2009 11:36
Widi Achmad Gozali
betul...satuju
Kearifan Emas , Jurnal Agung Ananda